Oleh : Hanif Acep Founder Lisana Institute

“TUHANMU SUDAH MEMILIHMU, ANAKKU”

Yusuf kecil tidak lama dididik langsung oleh ayahnya, Nabi Ya’kub as.

Waktu yang sebentar tidak mengurangi kualitas pengasuhan sang ayah. Di masa kanak-kanaknya Yusuf menikmati rasa aman dan kasih sayang berlimpah dari ayahnya.

Dari mana kita tahu hal itu. Dari kisah yang tercantum di awal-awal surat Yusuf. Kisah Yusuf di Al Qur’an tidak sepanjang kisah Yusuf di bibel. Ada banyak fragmen yang tidak tercantum. Fokus Al Qur’an bukan di kronologis, tetapi di pelajaran dalam kisah tersebut.

Kisah dimulai saat Yusuf kecil bermimpi, 11 bintang, matahari dan rembulan sujud padanya. Dari penyebutan dlomir “roaituhum hum lii saajidin”, ada kemungkinan tidak hanya bercerita, ia juga sudah mulai bisa mentakwil mimpi. Karena penggunaan dlomir hum biasa dipakai untuk ‘aqil(manusia yang berakal).

Ia sebut ayahnya,”ya Abati” sebuah panggilan penuh kasih dan hormat. Nabi Ya’kub as pun memanggilnya “Qoola ya bunayya la taqshus ru’yaka ‘ala ikhwatika fa yakiiduu laka kaidan”

“wahai ananda, jangan ceritakan mimpimu kepada saudara-saudaramu, sehingga mereka membuat tipu daya”

Itu respon penuh kepercayaan dan perlindungan dari Ya’kub kepada putranya. Ya’kub tidak menyatakan saudara-saudara Yusuf jahat, tetapi menyatakan syetan adalah musuh yang nyata.

Dan ada pengakuan Ya’kub as kepada putranya,”wa kadzalika yajtabika robbuka wa yu’alimuka min ta’wilil ahadits”

“Dan demikianlah, Tuhanmu sudah memilihmu dan mengajarkan ta’wil mimpi kepadamu”

Ini adalah validation (pengakuan) penting dari seorang ayah. Pengakuan yang membuat anak merasa dipercaya dan memilik konsep diri yang jelas. Bakatnya dikenali. Dan ia tahu bakat itu anugerah ilahi. Yusuf kecil hanya mendapat sedikit sentuhan ayahnya. Tetapi sentuhan itu sangat membekas.

Yusuf kecil tahu ayahnya seorang nabi. Kakeknya Ishaq as seorang nabi. Buyutnya Nabi Ibrahim as juga seorang nabi. Ia pun juga mendapat anugerah kenabian.

Kata-kata ayahnya membangun kepercayaan diri Yusuf kecil. Kepercayaan yang berlandaskan tauhid.

Ia disiapkan menghadapi ujian berat kehidupan. Dibuang saudaranya. Masuk sumur. Dijual sebagai budak. Digoda istri pejabat. Dijebloskan ke penjara. Dilupakan teman yang pernah dibantu.

Saat dibebaskan dari penjara. Ia masih Yusuf yang penuh kepercayaan diri. Jiwanya tidak trauma. Ia mengajukan diri sebagai bendahara logistik Mesir. “Inni hafiidhun ‘aliim” Sesungguhnya aku orang yang mampu menjaga dan berilmu.

Kata-kata ayahnya di waktu kecil,sangat penting dalam perkembangan Yusuf as. Ia pun diberi amanah besar menyelamatkan rakyat Mesir dan sekitarnya dari kelaparan.

Ia juga mendatangkan saudara-saudaranya, ayah dan ibunya ke Mesir. Memuliakan mereka dan mereka pun memuliakan Yusuf. Memberi maaf adalah pembalasan terbaik. Ia pun melihat 11 bintang, matahari dan rembulan seperti dalam mimpinya.

Hanif Acep
hanifacep@gmail.com
Founder Lisana Institute