in , , ,

Fikih Pawang Hujan

Oleh: Muh. Nursalim (Alumni Pondok Ngruki)

Fikih Pawang Hujan
Oleh: Muh. Nursalim

Mbak Rara komat-kamit mengucapkan mantra sambil berkali-kali mengoles mangkok yang ada di tangan kirinya dengan semacam kuas. Hujan tidak langsung reda tetapi setelah beberapa saat kemudian hujanpun berhenti dan balapan motor GP dilanjutkan.

Apakah hujan reda karena si pawang hujan, atau kebetulan saja aksinya berbarengan dengan saat redanya hujan. Yang pasti Badan Meteorologi dan Geofisika jauh hari sudah memprediksi gelaran balapan itu bersamaan dengan turunnya hujan. Karena itu lembaga tersebut melakukan TMC (Teknologi Modifikasi Cuaca).

Pada proses pelaksanaan TMC, petugas menabur garam yang mengandung natrium klorida dalam jumlah yang banyak.
Penaburan garam di laut ditujukan ke awan-awan mendung yang mengandung air hujan di atas laut. Sehingga, penaburan garam tersebut dapat membuat air hujan cepat turun saat masih di atas laut.

Jadi TMC adalah cara ilmiah untuk mengendalikan hujan. Bisa mendatangkan hujan atau memindahkan agar hujan turun ditempat yang diinginkan. Cara scientific ini rupanya masih belum memantabkan panitia, sehingga mereka juga mengundang pawang hujan.

Pawang hujan itu sejenis paranormal. Ia melakukan aksinya dengan bantuan jin. Dalam sebuah media online mbak Rara mengatakan begini.

“Saya diajarin kayak paranormal activuty seperti ngobrol dengan makhluk gaib dan roh”

Pengakuan itu cocok dengan apa yang dikatakan jin sebagai berikut:

وَأَنَّهُ كَانَ رِجَالٌ مِنَ الْإِنْسِ يَعُوذُونَ بِرِجَالٍ مِنَ الْجِنِّ فَزَادُوهُمْ رَهَقًا [الجن/6]

Dan sesungguhnya ada beberapa orang laki-laki dari kalangan manusia yang meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki dari jin, tetapi mereka (jin) menjadikan mereka (manusia) bertambah sesat.

Walaupun ayatnya menunjuk bahwa paranormal itu laki-laki tetapi sesuai dengan kaidah, “Al Ibratu la bi hususin lafdhi (pelajaran itu tidak hanya sebatas apa yang ada pada teks)”. Itu artinya wanitapun dimungkinkan dapat melakukan komunikasi dengan jin untuk minta perlindungan kepada makhluk tersebut.

Terlepas dari perdebatan apakah hujan reda kerena TMC atau pawang hujan, umat Islam perlu memantabkan kembali keimanannya. Supaya tidak tergelincir kepada keyakinan yang keliru. Yaitu dengan cara memahami kembali ayat alqur’an yang setiap muslim pasti hafal, yaitu:

إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ [الفاتحة/5]

Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan.

Ada tiga jenis do’a, yaitu Isti’anah (mohon pertolongan dalam keadaan biasa), istighatsah (mohon pertolongan dalam keadaan mendesak) dan Isti’azah (mohon perlindungan dari marabaya). Ketiga jenis do’a itu hanya boleh ditujukan kepada Allah. Siapa yang berdo’a kepada selain Allah maka ia telah berbuat sesat. Sebagaimana firman Allah berikut:

وَمَنْ أَضَلُّ مِمَّنْ يَدْعُو مِنْ دُونِ اللَّهِ مَنْ لَا يَسْتَجِيبُ لَهُ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ وَهُمْ عَنْ دُعَائِهِمْ غَافِلُونَ [الأحقاف/5]

Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang-orang yang berdo’a kepada selain Allah yang tidak dapat memperkenankan (doa)nya sampai hari Kiamat dan mereka lalai dari (memperhatikan) doa mereka?

Hujan itu nikmat Allah, dari sononya membawa berkah yaitu menambah kebaikan bagi penduduk bumi. Walaupun demikian terkadang manusia merasa tidak suka dengan hujan. Apabila kita merasa terganggu dengan hujan, ada do’a yang diajarkan oleh Rasulullah seperti ini.

صحيح البخاري – (ج 1 / ص 344)
اللهم حولينا ولا علينا اللهم على الآكام والظراب وبطون الأودية ومنابت الشجر

Ya Allah turunkanlah hujan di sekitar kami, dan jangan turunkan kepada kami untuk merusak kami. Ya Allah turunkanlah hujan di dataran tinggi, beberapa anak bukit, perut lembah dan beberapa tanah yang menumbuhkan pepohonan.

Manusia itu lemah. Ia merasa tidak mampu menghadapi ganasnya alam yang mengitarinya. Di tengah-tengah rasa takut itulah kemudian muncul keinginan untuk dilindungi dan diselamatkan dari marabaya. Orang beriman akan mencari perlindungan kepada Allah dengan cara yang diajarkan Rasulullah saw. Sebab bila mencari perlindungan kepada selain Allah berarti telah melakukan kemusyrikan, padahal syirik itu kezaliman yang paling besar. Sebagaimana firman Allah berikut:

لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ [لقمان/13]

Janganlah engkau mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar.

Zalim berarti memperlakukan sesuatu bukan pada tempatnya. Jin itu makhluk Allah yang terbuat dari api. Dia tidak pantas dimintai pertolongan dan perlindungan apalagi dipuja dan disembah. Maka jika manusia mohon perlindungan kepada jin berarti telah berlaku zalim.

Menimbun minyak goreng itu perbuatan zalim, akibat perbuatan para penimbun itu jutaan manusia menjadi susah. Walaupun demikian susahnya ini hanya urusan dunia. Adapun kezaliman karena kemusyrikan, bukan hanya tersesat di dunia akan tetapi di akherat akan mendapat siksa. Wallahu’lam

SUMUR RESAPAN

Tekstual dan kontekstual dalam mengawali Puasa Ramadhan